Ketika e-Court Mengalami Gangguan: Kisah Saya dan Semangat Penggugat Mandiri


Beberapa waktu lalu saya menghadapi pengalaman yang sangat membuka mata sebagai mahasiswa yang aktif praktik di dunia hukum.
Saya mencoba mengajukan gugatan secara mandiri melalui sistem e Court dengan harapan prosesnya akan cepat dan efisien. Dalam bayangan saya, cukup unggah dokumen, lakukan pembayaran, lalu perkara bisa berjalan sesuai jadwal. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. 
Ketika mulai mengunggah berkas, sistem mengalami kendala. Proses verifikasi dokumen tidak selalu berjalan lancar. Saya harus beberapa kali masuk ulang ke akun karena sistem keluar dengan sendirinya. Ada momen ketika saya merasa bahwa proses digital yang seharusnya mempermudah justru menjadi tantangan tersendiri. Di situ saya benar benar merasakan bagaimana gangguan teknis bisa berdampak besar terhadap akses keadilan. Pengalaman itu membuat saya berpikir lebih dalam. Jika saya yang memiliki latar belakang hukum saja menghadapi kesulitan, bagaimana dengan masyarakat umum yang mengajukan gugatan secara mandiri tanpa pendampingan? Saya membayangkan betapa besar perjuangan mereka. Mereka harus memahami prosedur, menyusun gugatan, mengunggah dokumen, sekaligus berhadapan dengan sistem yang belum tentu stabil.

Saya melihat langsung bahwa semangat penggugat mandiri adalah sesuatu yang luar biasa. Mereka tidak menyerah hanya karena sistem mengalami gangguan. Mereka tetap berusaha memperjuangkan haknya. Ada keteguhan yang tidak bisa diremehkan. Di balik setiap unggahan dokumen dan setiap percobaan masuk ke sistem, ada harapan besar untuk mendapatkan keadilan. Sebagai mahasiswa praktisi, pengalaman ini mengajarkan saya bahwa hukum tidak hanya berbicara tentang pasal dan teori di ruang kelas. Hukum juga berbicara tentang bagaimana sistem bekerja untuk manusia. Ketika teknologi belum sepenuhnya siap, yang terdampak adalah para pencari keadilan itu sendiri. Saya semakin yakin bahwa modernisasi peradilan harus diiringi dengan kesiapan teknis yang matang dan dukungan yang memadai bagi masyarakat. Digitalisasi memang langkah maju, tetapi tidak boleh meninggalkan mereka yang sedang berjuang sendirian.

Pengalaman menghadapi gangguan e Court bukan sekadar cerita tentang sistem yang bermasalah. Ini adalah refleksi tentang pentingnya akses keadilan yang benar benar dapat dijangkau oleh semua orang. Dan sebagai mahasiswa yang belajar sekaligus terjun langsung dalam praktik, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk terus menyuarakan perbaikan agar sistem hukum kita semakin kuat dan berpihak pada pencari keadilan.

Instagram

Satria Ridwan Herlambang | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi